Ingatlah Kematian dengan Ziarah Kubur


Rasulullah saw yang sangat menyayangi ummatnya itu pernah menyuguhkan nasehatnya yang teramat berharga: “Aku pernah melarang kalian menziarahi kubur . Sekarang ziarahilah kuburan, karena ziarah kubur itu melembutkan hati, membuat mata mengeluarkan airmata, mengingatkan kepada akhirat dan mencegah kalian dari berkata jorok.” (HR. Al-Hakim)

Hadits ini benar-benar memotivasi diriku sebagai orang mukmin untuk meninggalkan lingkungan “malas” dan tidak berperasaan. Mengubah kebiasaan burukku menuju dunia baru yang berperasaan dan aku harus selalu dalam keadaan siaga satu!

“Sekarang aku paham, mengingat kematian diperintahkan, namun itu bukan tujuan. Ingat kematian diperintahkan agar mendorong orang untuk beramal, yang menjadi penyebab terpenting orang selamat dari neraka dan mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala pada Hari Kiamat. Tangisan dan penyesalan karena ingat kematian dan akhirat tidak berarti banyak bagi pelakunya jika tidak ditindaklanjuti dengan amal perbuatan. Sementara, aku sedang tenggelam dalam pusaran dunia yang melalaikan. Oh.”

“Teman-teman yang keadaannya seperti diriku, cobalah perhatikan goresan penyair zuhud Abu Al-Itahiyah, menyadari urgensinya beramal setelah ingat kematian. Secara khusus ia mengarahkan perkataannya kepada orang-orang yang sibuk membangun rumah di dunia dan segala kemegahan dunia, tapi lupa membangun rumah di negeri akhirat”.

“Wahai pembangun rumah,

Apa yang telah engkau siapkan

untuk rumahmu di negeri lain?

Hai penghampar permadani tebal,

Jangan lupa dengan tidur yang panjang dan lama

Engkau telah dipanggil dan menjawab panggilan itu

Coba pikirkan kenapa engkau dipanggil?

Bukankah engkau menghitung orang-orang hidup yang engkau lihat?

Lalu engkau melihat mereka semua menjadi mayat-mayat?

Engkaupun, pasti tiba di tempat mayit-mayit itu

Dan tiba di terminal mereka.”

“Aku sadar jika masa dimana kita semua tidur tidak bisa disamakan dengan masa tidur di kuburan. Jadi, bukankah masuk akal kalau persiapan menggelar hamparan untuk tidur panjang itu lebih penting untuk diutamakan?”

“Wahai teman, sepakatkah Anda bahwa kesibukan dunia yang melupakan akhirat adalah penyebab terbesar lemahnya persiapan dan rendahnya semangat beramal untuk menghadapi hari-hari setelah kematian? Namun selalu ingatlah akhirat, hingga menjadi obsesi utama dan unsur paling berdaya yang menimbulkan semangat untuk beraktivitas dan beramal baik setiap saat Kenapa demikian? Ini karena perasaan sesaat hanya menghasilkan semangat beramal yang berusia sesaat pula, atau terkadang malah tidak menghasilkan semangat beramal sama sekali.”

“Aku semakin paham dan keyakinanku pun bertambah mantap ketika Rasulullah saw. telah terbukti menjalani perjalanan hidup ini, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala saja telah memberikan pujian kepadanya. Rasulullah saw meminta ummatnya agar menjadikan akhirat sebagai obsesi utamanya dan kesibukan prinsipilnya. Ketahuilah bahwa dunia datang pada sebagian orang dan mendorong orang tersebut untuk mengambilnya. Di sisi lain, dunia lari dari orang yang memburunya karena kerakusan di hatinya telah membutakan matanya, sehingga dunia terlihat semakin menjauh padahal dunia sudah ada dalam genggamannya.”

Untuk hal ini Rasullah saw. telah bersabda, “Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai obsesi utamanya, maka Allah menjadikan hatinya kaya, melancarkan semua urusannya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan barangsiapa menjadikan dunia sebagai obsesinya, maka Allah menjadikannya miskin, mengacaukan semua urusannya, dan dunia datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan untuknya”. (HR. At-Tirmidzi)

Syumaith bin Ajlan berkata, “Barangsiapa selalu ingat kematian, ia tidak peduli apakah dunia ini sempit atau luas”.

“Kini aku semakin mantap menyongsong masa depan yang semakin dekat dan pasti aku dapati, yaitu kematian. Aku bertekad untuk melembutkan hati, tidak lagi dikuasai oleh kekerasan dan kekasaran hati, tidak lagi acuh dengan firman Allah, tidak lagi malas menunaikan aturan-Nya, tidak lagi bersikap zalim terhadap sesama, dan tidak lagi bakhil atau sombong….Astaghfirullahal ‘Adziim.”

“Aku bertekad untuk mengisi kesempatan hidup yang semakin sempit ini dengan 5S. Inilah 5S itu.

Segera melakukan kebaikan dan perbaikan diri.

Sebanyak-banyaknya melakukan amal shaleh.

Sebaik mungkin dalam beramal.

Sebanyak mungkin beristighfar dan bertaubat.

Sejauh-jauhnya dari maksiat demi menghindari suul khatimah.

“Doakan aku teman-teman semoga aku bisa istiqomah sampai saat ajal datang…. Apalagi ajalku semakin dekat”.

Comments (1)

On 24 Juni 2010 01.09 , al mubarokah mengatakan...

assalamu'alaikum
salam kenal dari wawan nuryadin